Claudio Ranieri Tidak Sabar Balik Melatih

Claudio Ranieri Tidak Sabar Balik Melatih

Juru tak-tik dari Italia, Claudio Ranieri, mengakui telah gatal mau balik melatih. Dia pun mengakui telah melupakan permusuhannya bersama Pelatih MU, Jose Mourinho.

Claudio Ranieri adalah satu dari sekian banyak juru tak-tik sangat berpengalam di Benua Biru. Dia sudah melatih di tim di Liga Italia Serie A, La Liga Santander, Liga Premier Inggris sampai Ligue 1 Prancis.

Tim-tim yang sudah dididiknya meliputi Cagliari, Napoli, Fiorentina, Valencia, Atletico Madrid, Chelsea, Parma, Juventus, AS Roma, Inter Milan, Monaco, Leicester City serta Nantes.

Pencapaian paling bagusnya ialah saat membantu Leicester mengangkat trofi Liga Premier Inggris kampanye musim 2015/2016.

“Meraih trofi Liga Premier Inggris bareng Leicester merupakan kenangan manis yang terus aku ingat di saat-saat sangat sulit,” tutur Ranieri pada acara RAI Sport Rabona.

“Keinginan aku ialah balik lagi menuju manajemen, tak perduli apa ini di Italia ataupun di luar negeri. Aku bakal menyatakan jika kerja di Inggris amat menyenangkan.”

Claudio Ranieri pernah saling sindir dengan manajer MU, Mourinho di waktu lalu. Tapi, menurut juru tak-tik yang sekarang berumur 67 tahun tersebut, mereka berdua sekarang telah berbaikan.

“Mourinho merupakan karakter yang besar, juru tak-tik yang spektakuler serta orang yang besar. Aku kira semua kontroversi atas aku punya ‘Gelar nol’ sudah diabaikan lama sebelumnya,” Ranieri melanjutkan.

Reformasi PSSI Banyak Mendapat Dukungan

Reformasi PSSI Banyak Mendapat Dukungan

Usaha Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN) guna mereformasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) memperoleh sambutan hangat melalui banyak Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI.

Malahan, ekspektasi mereformasi PSSI dengan cara jumlah menggelinding bak bola salju yang kerap membesar. Respons bagus itu datang di dalam pertandingan KPSN bersama Asprov PSSI Jawa Barat serta lain.

Pertandingan dimulai dengan cara paralel serta simultan pada Jakarta serta Bandung, Rabu (17/10). Pada Jakarta, Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono berjumpa bersama satu dari sekian banyak Ketua Asprov yang amat memiliki pengaruh.

Sementara pada Bandung, Sekretaris KPSN Alief Syachviar berjumpa bersama Ketua Asprov PSSI Jabar Tommy Apriantono. Menurut terdeteksi, KPSN tercipta pertama Oktober silam guna mereformasi PSSI dengan cara jumlah.

Tujuannya membangun kembali PSSI menuju khittah serta impian kelahirannya, 19 April 1930, yaitu menjadi alat pemersatu bangsa, serta menjadi alat usaha guna menyetarakan bangsa Indonesia bersama bangsa-bangsa lainnya yang setingkat lebih melaju melewati pencapaian sepakbola.

Sekarang, KPSN kedatangan PSSI dibawah Ketua Umum Edy Rahmayadi sudah menyimpang jauh melalui khittah PSSI. Hal tersebut tercermin melalui tebang pilihnya Komisi Disiplin PSSI di dalam menjatuhkan sanksi pada tim-tim, menurut Persib Bandung.

Juga halnya tempat Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi yang merangkap posisi menjadi Gubernur Sumatera Utara.

“Padahal, perangkapan posisi kepala kotak serta Ketua Umum PSSI melakukan pelanggaran aturan, ” kata Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono pada Jakarta, Jumat (19/10/2018).

Hendra, pinangan akrabnya, silam merujuk aturan yang tidak mengizinkan kepala kotak merangkap posisi Ketua Umum PSSI, yaitu Surat Edaran (SE) Menteri Domestik No 800/148/SJ mengenai Pelarangan Rangkap Posisi Kepala Kotak dan/atau Wakil Kepala Kotak di Kepengurusan KONI, PSSI, Tim Sepakbola Profesional serta Amatir, dan Posisi Publik serta Posisi Struktural, tertanggal 17 Januari 2012.

“Mendagri Pak Tjahjo Kumolo pun telah menginstruksikan supaya kepala kotak tak merangkap posisi pada organisasi olah raga. Sekarang masanya Mendagri berbuat eksekusi, bersama mengancam Edy Rahmayadi guna memutuskan satu dari sekian banyak posisi, apa gubernur ataukah Ketua Umum PSSI, ” katanya.

Gubernur serta Ketua Umum PSSI bukanlah posisi main-main, hingga tidak dapat dirangkap. Jika dirangkap, bukanlah cuma PSSI yang jadi sasaran sebab tak diurus bersama penuh, melainkan pun rakyat Sumut sebab masa guna melayani rakyat tersita guna mengurus PSSI. Dua-duanya bakal jadi sasaran, ” katanya.

Hendra memperhitungkan seharusnya tersedia pergantian pada tempat ketua umum PSSI. “Reformasi PSSI bakal kita mulai melalui sini, ” terangnya.

Di samping menggantikan Ketua Umum PSSI, KPSN pun mewacanakan pergantian semua anggota Executive Committee (Exco) ataupun Komisi Eksekutif PSSI yang sekarang tersedia asal pertandingan politik serta pemilik tim, hingga berlangsung benturan kepentingan ataupun conflict of interest.

Di dalam pembicaraannya bersama Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono, satu dari sekian banyak Ketua Asprov yang amat memiliki pengaruh mengakui sepakat bersama misi KPSN.

“Besar rasanya hati aku, kenyataannya Ketua Asprov itu 1 lini bersama garis usaha kita, ” kata Hendra merahasiakan nama Ketua Asprov itu.

Ketua Asprov PSSI Jabar Tommy Apriantono jelang bagus gerakan KPSN guna berbuat transformasi jumlah pada tubuh PSSI serta persepakbolaan Indonesia.

Tommy silam memberikan contoh kasus kematian pendukung The Jakmania, Haringga Sirla (23) kala melihat pertandingan Persib vs Persija pada Stadion Semangat Bandung Lautan Api (GBLA) akhir-akhir ini.

“Ini adalah satu dari sekian banyak masalah raksasa sepakbola Indonesia. PSSI terlampau penuh kepentingan hingga penegakan hukum terus lemah, ” katanya.

Anggapannya, PSSI terus berkilah statuta menjadi landasan hukumnya, tapi di praktiknya beberapa sebuah pelanggaran statuta yang malah dikerjakan dengan pengurus PSSI sendiri.

Tommy yang pun dosen ITB itu mengakui akan berduet bersama KPSN guna berbuat transformasi jumlah sepakbola nasional. ”Mau bagi kegiatan urun rembug ataupun agenda lainnya, aku akan gabung bersama KPSN, ” jelasnya.

Hapus Hasil Voting Ballon d’Or 2018, Ini Klarifikasi France Football

Hapus Hasil Voting Ballon d’Or 2018, Ini Klarifikasi France Football

Media France Football pada akhirnya memberi klarifiksai atas penghapusan Hasil Voting Ballon d’Or 2018 yang dimenangkan oleh Lionel Messi.

France Football secara mencengangkan menghapus pencapaian voting Ballon d’Or 2018 versi pembaca. Meskipun begitu, beberapa warganet telah merekam pencapaian voting dari media penyelenggara resmi Ballon d’Or semenjak 1956 ini.

Sebelum dihapus, bintang Barcelona tersebut menang jauh dari 29 calon lainnya bersama suara bisa sampai 48 persen. Messi disusul dengan superstar Liverpool, Mohamed Salah dengan raihan 31 persen suara. Sedangkan Cristiano Ronaldo ada pada tempat ke-3 dengan jumlah suara senilai delapan persen.

Aksi France Football itu menuai kecaman pedas dari warganet, yang memandang surat kabar itu sengaja menghalangi Messi guna meraih trofi bola emas.

Beberapa saat usai menghapus pencapaian poling, France Sepakbola juga memberi sebab dibalik penghapusan poling yang menurut laporan sudah mendapat 700 000 suara itu.

“Sebagaimana yang Kamu ketahui, kami harus menghapus artikel lalu yang berjudul “Konsultasi: Memilih Siapa yang Menurut Kamu Layak Meraih Bola Emas France Football 2018″ sebab itu menjadikan munculnya beberapa akun palsu yang dibikin lewat malware guna memiliki imbas pada pencapaian voting.

Kami mau mengingatkan jika survey itu, cuma guna tujuan konsultasi saja, serta tentu tak memilki pengaruh di hasil akhir sebab Ballon d’Or terus diberi oleh juri terspesialisasi serta wartawan independen.

Terima kasih semua sebab tak menginterpretasikan hal yang diawali sebab kejadian teknis serta diluar kontrol rombongan saya itu dengan cara berlebihan. Sampai jumpa pada tanggal 3 Desember guna pencapaian laga pamungkas Bola Permata guna lelaki serta wanita tak ketinggalan pula guna pencapaian Piala Kopa,” tutup pernyataan tersebut.

Cekit Wasit, Bintang Madura FC Dapat Sanksi Berat dari PSSI

Cekit Wasit, Bintang Madura FC Dapat Sanksi Berat dari PSSI

PSSI belum lama meluncurkan hasil sidang Komite Disiplin 3 Oktober 2018 dengan memberi jumlah 6 jenis pelanggaran beserta suspensi yang diberi.

Satu dari sekian banyak jenis pelanggaran yang resmi dirilis PSSI merupakan suspensi dari bintang Madura FC, Farid Wajdi.

Farid Wajdi memperoleh suspensi sukar dari yaitu tidak diperbolehkan beraktivitas di lingkungan PSSI sepanjang 6 bulan.

Suspensi sulit ini diberi PSSI, karena ulahnya yang berbuat protes kasar kepada sang pengadil secara mencekik leher.

Kejadian itu berlangsung kala Persegres Gresik United melawan Madura FC di dalam lanjutan Liga 2 2018 di Stadion Semangat Joko Samudro pada 25 September 2018. Laga itu selesai seri 1-1 buat ke 2 kesebelasan.

Memang Madura FC nyaris saja membawa kembali 3 angka, jika saja di waktu menit-menit terakhir Persegres tak mendapat hadiah penalti oleh sang pengadil.

Kala wawancara berakhir pertandingan, juru tak-tik Madura FC, Salahudin, memang cukup menyesal pada keputusan sang pengadil yang menghadiahi penalti pada tuan rumah.

“Tadi aku dapat informasi melalui pemain, ini memang tak handball, cuma bola naik sedikit hingga paha serta sang pengadil mengambil keputusan ini (penalti). Aku rasa para pemain emosi tak terlampau berlebihan tadi, tidak pernah ada pemukulan pun, ” tutur Salahudin.